Sabtu, 29 Oktober 2011

aksara yang terbuang

tergeletak di sudut malamku
aksara terserak berselimut debu
ku pungut dalam genggaman
tak kulepas meski terajam

bersama bara sahabatku
yg trus mengepulkan asap menari indah
bersanding dengan secangkir kopi hangat pelipu lara
aku menatap dunia berwarna biru

ku guratkan pena anganku
merangkai aksara berselimut debu
yang kupungut di sudut malamku
tuk memeluk rindu
yg selalu menari dalam anganku
buaiku dalam impian semu

kala rasa telah menjadi duri

dalam dingin awal hari ni
kupandang lagi puing hati yg tergeletak lelap
berselimut rasa yang dulu kurasa indah
mewangi laksana aroma surga

angan dan raga senantisa menjaganya
dengan tulus jiwa kusentuh rasa itu dgn kelmbutan laku dan tuturkata
meskipun smua hanya semu
datang dari dunia berwarna biru

kini aku benci rasa ini
ketika ketulusan ini telah melukai rasa yang lain
sungguh begitu keji rasa ini
rasa ini bukanlah rasa tapi dosa

cakrawala

di bawah cakrawala yg merona
ku rebahkan raga yg mulai lelah
kusandarkan angan yg mulai terbelenggu
diam membisu laksana arca

senja menyibak pecahkan pekat
ayunkan merah membelah hitam
sisakan desah di bibir resah
mengais mimpi yg datang tanpa lelap

jemari mencabik gelisah hati
merenggut aksara yg terbuai mimpi
menyulam syair diantara gundah
hanyutkan rasa memucat semu

ku menunggu maafmu

pekat jiwaku selarut malam
hitam tergelar selimuti hati
gelisah menerpa taburkan gundah
mengharap sebait maaf yang tak pernah terucap

hanya angan yg mulai letih
coba menyibak gelapnya rasa
ku hanya ingin seperti dulu
kala kebodohan rasa tak pernah terungkap

cerita cerita mengalir mengisi bejana hidup
tawa berkumandang diiringi airmata
smua begitu indah smua begitu berarti
karena kisah itu ku ingin kembali

Kamis, 27 Oktober 2011

Jelitaku

wahai rembulan
turunlah sejenak dari singgasanamu di sudut malam
kuingin bisikkan sebuah kisah indah yg tak pernah terukir
tentang rasa yg ada namun terkurung dalam jiwa

wahai rembulan
biarkan aku guratkan sebait kata dengan kilaumu
kata yg tersusun dari hati yg terbelenggu rindu
untuk sang jelita yg tersenyum dalam layu

wahai rembulan
dtnglah kpdaku & akan kutitipkan setangkup rindu
untuk jelita hatiku yg selalu ada di anganku
dendangkan untuknya kidung rindu dariku

Menepi Diujung Waktu

diriku adalah jiwa yg dicumbu jenuh
kegelisan erat memagut anganku
ku berteriak lantang dalam diamku
menghibur diri dengan syair usang

aksara yg kusulam dalam rentanya malam
memutar waktu kembali disaat lalu
saat kutemukan dirimu terduduk layu
di dunia semu terselimut debu debu yang bersimpuh

ku haturkan jemari lemahku
tuk merengkuhmu dari duniamu
kuselimutkan suci cintaku
untuk hangatkan hatimu yg menggigil beku

kepekatan dalam harimu
ku tepis dengan kemilau tulus rinduku
luka yg menganga merajam kisahmu
ku obati dengan setangkai bunga kasih yg tak pernah layu

namun smua kini hanyalah hayal yg membiru
saat kau kepakkan sayap kokohmu
terbang menjauh tinggalkanku
tanpa seuntai senyum yg selalu kurindu

mata nanar melepas pergimu
berat airmata menggelayut di ujung senja itu
terkatup rapat tanpa mampu berucap
hanya terdiam mengharap tuk bahagiamu